Klaim Profesor Singapura Tak Pernah Lihat Gibran Sekolah Ternyata Hoaks, Foto Hasil AI
Narasi soal Prof Li Jie yang mengaku tak pernah melihat Gibran sekolah di Singapura adalah hoaks. Tidak ada pengajar tetap dengan nama itu di NUS maupun SMU, dan foto yang dipakai terdeteksi sebagai gambar buatan AI.
Sebuah unggahan di Facebook menyebut seorang profesor asal Singapura bernama Li Jie mengaku tidak pernah melihat Gibran Rakabuming Raka bersekolah di sana.

Cek FaktaHoaks
Klaim yang beredar
Di Facebook beredar unggahan yang mengatasnamakan seorang akademisi Singapura, Li Jie, yang disebut berstatus profesor. Dalam narasi itu, ia diklaim menyatakan tidak pernah menjumpai Gibran Rakabuming Raka menempuh pendidikan di Singapura.
Faktanya
Komdigi menelusuri klaim tersebut dan menyimpulkan bahwa isinya tidak benar. Pemeriksaan mengacu pada pemberitaan kompas.com serta daftar pengajar di laman nus.edu.sg dan business.smu.edu.sg. Dari penelusuran itu, tidak ada dosen tetap yang bernama Prof Li Jie.
Selain soal nama, gambar yang ditampilkan sebagai wajah Prof Li Jie juga bermasalah. Pemeriksaan memakai perangkat pendeteksi kecerdasan buatan Hive Moderation, dan alat itu menilai foto tersebut merupakan hasil AI generatif dengan probabilitas 99,9 persen.
Soal status pendidikan Gibran, pihak kampus di Singapura menyatakan bahwa ia tercatat sebagai mahasiswa penuh waktu di Management Development Institute of Singapore (MDIS) pada 2007 hingga 2010. Selama periode itu, ia menuntaskan Diploma Lanjutan, lalu melanjutkan studi untuk memperoleh gelar Bachelor of Science (Honours). Keterangan ini sebagaimana diberitakan kompas.com.
Analisis
Yang membuat klaim ini menyesatkan adalah kombinasi dua teknik sekaligus. Pertama, pencatutan nama dan otoritas: sosok "profesor" dipakai untuk memberi kesan bahwa pernyataan datang dari kalangan akademik yang kredibel, padahal nama yang disebut tidak ditemukan dalam daftar pengajar resmi institusi yang dirujuk. Kedua, rekayasa visual berbasis AI. Foto yang seolah menjadi bukti keberadaan narasumber justru dinilai hampir pasti sebagai gambar sintetis, sehingga tidak ada figur nyata yang bisa dimintai konfirmasi.
Pola semacam ini menyulitkan pembaca karena wajah dan gelar akademik mudah dipalsukan, sementara narasi yang menyentuh tokoh publik cepat menyebar. Pihak yang dirugikan bukan hanya Gibran, tetapi juga institusi pendidikan yang namanya dibawa-bawa, serta publik yang menerima informasi keliru sebagai dasar penilaian.
Pembaca dapat melakukan pengecekan sederhana sebelum meneruskan unggahan. Pertama, cocokkan nama tokoh dengan direktori resmi lembaga yang disebut; bila tidak ada, klaim patut dicurigai. Kedua, periksa apakah ada pemberitaan dari media kredibel yang mengutip pernyataan tersebut secara langsung. Ketiga, perhatikan tanda gambar hasil AI, dan bila perlu gunakan alat pendeteksi serupa untuk menguji keaslian foto. Keempat, telusuri keterangan resmi institusi soal status mahasiswa yang dipersoalkan.
Kesimpulan
Klaim bahwa seorang profesor di Singapura mengaku tidak pernah melihat Gibran sekolah tidak berdasar. Nama yang disebut tidak ada dalam daftar pengajar tetap, fotonya teridentifikasi sebagai gambar AI, dan kampus terkait telah menegaskan status Gibran sebagai mahasiswa penuh waktu di MDIS pada 2007-2010. Putusan: hoaks.
Sumber verifikasi
Komdigi · 10 Oktober 2026Profesor di Singapura Mengaku Tidak Pernah Melihat Gibran SekolahTautan pembanding
Kutip publikasi ini
IMPRESI. (2026). Klaim Profesor Singapura Tak Pernah Lihat Gibran Sekolah Ternyata Hoaks, Foto Hasil AI. Institut Media dan Ruang Publik Indonesia. https://impresi.or.id/cek-fakta/cek-fakta-profesor-di-singapura-mengaku-tidak-pernah-melihat-gibran-sekolah
Data dan temuan boleh dikutip dengan menyebut IMPRESI dan menautkan halaman ini.
