Ikan Bertebaran di Pantai Selat Sunda Diklaim Akibat Erupsi Anak Krakatau, Ternyata Rekaman Lama dari Luar Negeri
Unggahan yang menyebut ikan bertebaran di pantai Selat Sunda akibat erupsi Anak Krakatau tidak benar. Klip yang dipakai adalah rekaman lama dari Kanada dan Tiongkok, sementara BMKG menyatakan surutnya air laut tidak terkait aktivitas vulkanik.
Sebuah video di Facebook menampilkan ikan pari dan sarden terdampar di pantai Provinsi Lampung, diklaim sebagai dampak erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 yang membuat dasar laut panas dan ikan naik ke tepi.

Cek FaktaHoaksKlaim yang beredar
Di Facebook beredar sebuah video yang digambarkan sebagai peristiwa ikan bertebaran di pantai Selat Sunda, tepatnya di wilayah Lampung. Narasi dalam unggahan menyebut air laut surut dan ikan pari serta sarden terdampar di pasir basah sebagai akibat erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026. Bunyi narasinya: "Ikan mengambang dan menepi Efek dari erupsi anak,an gunung krakatau Dasar laut air panas campur belerang sehingga ikan mengambang dan menepi".
Faktanya
Penelusuran yang dilakukan Komdigi menunjukkan bahwa klip-klip dalam video tersebut bukan rekaman baru dari Selat Sunda. Salah satu potongan yang menampilkan ribuan ikan di pantai dengan latar tebing berasal dari Middle Cove Beach, Provinsi Newfoundland and Labrador, Kanada. Bentuk tebing pada video itu sama dengan citra 360 derajat lokasi tersebut di Google Earth.
Pemeriksa fakta juga mengutip laporan tempo.co yang menyebut rekaman lain, yakni pantai pada waktu menjelang petang dengan ikan yang bergerak-gerak di pasir, tidak diambil di Lampung maupun Selat Sunda. Video itu sudah muncul di Douyin dan Sohu.com, platform media sosial asal Tiongkok, sejak 2022.
Erupsi Gunung Anak Krakatau memang tercatat berlangsung mulai 4 September 2026. Meski demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa peristiwa air laut surut yang ramai dibagikan itu tidak berhubungan dengan aktivitas gunung berapi tersebut.
Analisis
Yang membuat unggahan ini menyesatkan adalah teknik pencampuran konteks. Rekaman dari dua lokasi dan waktu berbeda, yaitu pantai di Kanada dan video yang telah beredar di Tiongkok sejak 2022, dirangkai menjadi satu narasi yang seolah memperlihatkan kejadian di Lampung. Peristiwa erupsi Anak Krakatau yang nyata kemudian dipakai sebagai bingkai agar rangkaian klip lama tampak aktual dan masuk akal bagi pembaca.
Penjelasan sebab-akibat dalam narasi, yakni dasar laut memanas dan bercampur belerang sehingga ikan naik ke tepi, tidak didukung keterangan BMKG yang justru memisahkan fenomena surutnya air laut dari aktivitas vulkanik. Pembaca yang tidak memeriksa asal klip berisiko mengaitkan kejadian alam biasa dengan bencana gunung berapi, sehingga kekhawatiran warga di sekitar pesisir bisa membesar tanpa dasar.
Untuk memeriksa sendiri, pembaca dapat menelusuri lokasi yang tampak dalam video melalui citra satelit atau foto 360 derajat, mencari versi video yang lebih awal di platform lain, dan mencocokkan pernyataan lembaga resmi seperti BMKG. Menemukan versi lama dari klip yang sama di luar negeri merupakan tanda kuat bahwa video tidak merekam peristiwa yang diklaim.
Kesimpulan
Klaim bahwa ikan bertebaran di pantai Selat Sunda akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak terbukti dan masuk kategori hoaks. Video yang digunakan merupakan gabungan rekaman lama dari Kanada dan Tiongkok, sedangkan BMKG menyatakan surutnya air laut tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik.
Sumber verifikasi
Komdigi · 3 Oktober 2026Ikan Bertebaran di Pantai Selat Sunda karena Erupsi Gunung Anak KrakatauTautan pembanding
Kutip publikasi ini
IMPRESI. (2026). Ikan Bertebaran di Pantai Selat Sunda Diklaim Akibat Erupsi Anak Krakatau, Ternyata Rekaman Lama dari Luar Negeri. Institut Media dan Ruang Publik Indonesia. https://impresi.or.id/cek-fakta/cek-fakta-ikan-bertebaran-di-pantai-selat-sunda-karena-erupsi-gunung-anak-krakatau
Data dan temuan boleh dikutip dengan menyebut IMPRESI dan menautkan halaman ini.
