Video Purbaya Menolak Dicalonkan sebagai Wapres RI Ternyata Hasil Rekayasa AI, Berlabel Hoaks
Klaim bahwa Purbaya Yudhi Sadewa menolak dicalonkan sebagai Wakil Presiden RI beredar lewat video di Facebook. Faktanya, video aslinya membahas pengunduran diri Dirut BEI, dan suara Purbaya dalam unggahan itu terdeteksi sebagai hasil kecerdasan buatan.
Sebuah unggahan di Facebook menampilkan mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menolak dicalonkan menjadi Wakil Presiden RI.

Cek FaktaHoaksKlaim yang beredar
Di media sosial Facebook, sebuah unggahan video diklaim memperlihatkan Purbaya Yudhi Sadewa, mantan Menteri Keuangan, menyatakan penolakan atas pencalonannya sebagai Wakil Presiden RI. Narasi itu disebarkan seolah-olah sebagai pernyataan resmi dari yang bersangkutan.
Faktanya
Pemeriksaan yang dilakukan Komdigi dan dilaporkan pemeriksa fakta menyimpulkan klaim tersebut tidak benar. Penelusuran dengan teknik pencarian gambar terbalik (reverse image search) menuntun ke sumber unggahan asli, yakni video di akun Facebook iNews yang dipublikasikan pada 30 Januari 2026. Dalam video aslinya, Purbaya yang kala itu masih menjabat sebagai Menteri Keuangan sedang menanggapi pengunduran diri Iman Rachman dari posisi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Pandangannya, langkah tersebut tidak merugikan keuangan negara dan justru dibaca sebagai sinyal positif bagi pasar modal.
Selain itu, pengujian dengan Hive Moderation menunjukkan suara Purbaya dalam video yang beredar di media sosial merupakan hasil kecerdasan buatan generatif, dengan probabilitas 99,4 persen. Dengan demikian, tidak ada pernyataan Purbaya tentang pencalonan wakil presiden dalam rekaman tersebut.
Analisis
Yang membuat klaim ini menyesatkan adalah kombinasi dua teknik sekaligus. Pertama, potongan video lama dipakai ulang dan dilepaskan dari konteks aslinya: pembahasan soal BEI diubah menjadi pernyataan politik tentang pencalonan wakil presiden. Kedua, audio tokoh direkayasa menggunakan kecerdasan buatan generatif, sehingga suara yang terdengar meyakinkan sebenarnya bukan suara asli yang bersangkutan.
Pola semacam ini berisiko karena meminjam kredibilitas figur publik, dalam hal ini seorang pejabat negara, untuk menyampaikan pesan yang tidak pernah ia ucapkan. Publik yang tidak menelusuri sumber dapat menerima pernyataan palsu sebagai fakta, sementara nama tokoh dan institusi yang disebut ikut terdampak. Perlu ditegaskan bahwa sumber tidak menyebut siapa pembuat atau penyebar pertama rekayasa ini, sehingga penilaian sebaiknya dibatasi pada karakter kontennya.
Pembaca dapat memeriksa sendiri dengan beberapa langkah sederhana: menelusuri video asli melalui pencarian gambar terbalik, mencocokkan tanggal dan konteks unggahan sumber, serta mencermati kesesuaian gerak bibir dengan suara. Kehadiran alat pendeteksi AI juga membantu, tetapi tetap perlu disertai pengecekan konteks.
Kesimpulan
Klaim bahwa Purbaya Yudhi Sadewa menolak dicalonkan sebagai Wakil Presiden RI adalah hoaks. Video aslinya membahas pengunduran diri Dirut BEI, dan suara dalam unggahan yang beredar teridentifikasi sebagai rekayasa kecerdasan buatan.
Sumber verifikasi
Komdigi · 5 Oktober 2026Video Purbaya Menolak Dicalonkan Menjadi Wakil Presiden RITautan pembanding
Kutip publikasi ini
IMPRESI. (2026). Video Purbaya Menolak Dicalonkan sebagai Wapres RI Ternyata Hasil Rekayasa AI, Berlabel Hoaks. Institut Media dan Ruang Publik Indonesia. https://impresi.or.id/cek-fakta/cek-fakta-video-purbaya-menolak-dicalonkan-menjadi-wakil-presiden-ri
Data dan temuan boleh dikutip dengan menyebut IMPRESI dan menautkan halaman ini.
