Pesan Berantai soal Sensus Pemanfaatan dan Potensi Infrastruktur Mengatasnamakan BPS Adalah Hoaks
Pesan berantai di WhatsApp yang mengatasnamakan BPS untuk mengisi Sensus Pemanfaatan & Potensi Infrastruktur lewat tautan tertentu dinyatakan hoaks. BPS tidak pernah menyelenggarakan sensus dengan nama tersebut; survei resmi BPS yang disebar via SMS adalah Survei Digital Wisatawan Nusantara dengan tautan berawalan s.bps.go.id/.
Beredar pesan berantai di WhatsApp yang mengatasnamakan Badan Pusat Statistik (BPS) dan mengajak penerimanya mengisi Sensus Pemanfaatan & Potensi Infrastruktur melalui sebuah tautan.

Cek FaktaHoaks
Klaim yang beredar
Sebuah pesan berantai di aplikasi WhatsApp menyebar ke banyak penerima. Isinya mengatasnamakan Badan Pusat Statistik (BPS) dan mengajak orang mengikuti Sensus Pemanfaatan & Potensi Infrastruktur. Pesan itu menyertakan sebuah tautan yang disebut sebagai kanal pengisian sensus tersebut.
Faktanya
Komdigi menyatakan klaim dalam pesan berantai itu hoaks. BPS tidak menyelenggarakan kegiatan bernama Sensus Pemanfaatan & Potensi Infrastruktur, sehingga ajakan mengisi sensus lewat tautan dalam pesan tersebut tidak berdasar.
Menurut Komdigi, salah satu survei BPS yang memang menyebarkan kuesioner melalui SMS adalah Survei Digital Wisatawan Nusantara (Wisnus). Survei resmi ini menghimpun keterangan tentang perjalanan wisata penduduk Indonesia, mencakup tujuan perjalanan, moda transportasi, akomodasi, serta pengeluaran. Hasilnya dipakai untuk menopang penyediaan statistik dan perencanaan sektor pariwisata.
Responden yang terpilih akan dikirimi SMS resmi dari BPS RI untuk mengisi survei secara daring. Komdigi mengingatkan agar penerima memastikan tautan dalam SMS tersebut memakai alamat resmi BPS yang diawali s.bps.go.id/. Beberapa pengirim SMS survei yang tercatat adalah BPS, BPS RI, dan BPS-RI. Data responden dijamin kerahasiaannya dan hanya dipakai untuk keperluan statistik.
Analisis
Yang membuat pesan ini menyesatkan adalah pencatutan nama lembaga resmi. BPS adalah institusi yang dikenal publik, sehingga penyebutan namanya memberi kesan bahwa ajakan tersebut sah. Penambahan tautan pengisian membuat pesan tampak seperti prosedur administratif biasa, padahal BPS tidak memiliki program yang dimaksud.
Pola semacam ini berisiko bagi penerima. Tautan dalam pesan berantai tidak dapat dipastikan arahnya dan berpotensi dipakai untuk menghimpun data pribadi tanpa hak. Kelompok yang paling terdampak adalah warga yang menerima pesan dari kontak yang dipercaya dan menganggapnya sebagai instruksi resmi.
Publik dapat memeriksa sendiri sebelum bertindak. Pertama, cocokkan nama kegiatan dengan kanal resmi BPS; ketiadaan program tersebut di sana sudah menjadi tanda awal. Kedua, perhatikan alamat tautan: komunikasi resmi BPS yang dikirim lewat SMS menggunakan awalan s.bps.go.id/. Ketiga, jangan mengisi data pribadi melalui tautan yang datang dari pesan berantai tanpa kepastian sumber. Verifikasi dilakukan oleh Komdigi, dan IMPRESI menelaah serta menyajikan ulang hasilnya.
Kesimpulan
Ajakan mengisi Sensus Pemanfaatan & Potensi Infrastruktur atas nama BPS melalui tautan di pesan WhatsApp tidak benar. BPS tidak menjalankan sensus itu, dan satu-satunya survei lewat SMS yang disebut dalam pemeriksaan ini adalah Survei Digital Wisatawan Nusantara dengan tautan resmi berawalan s.bps.go.id/. Pesan berantai tersebut berlabel hoaks.
Sumber verifikasi
Komdigi · 8 Oktober 2026Pesan Berantai Terkait Sensus Pemanfaatan & Potensi Infrastruktur yang Mengatasnamakan BPSTautan pembanding
Kutip publikasi ini
IMPRESI. (2026). Pesan Berantai soal Sensus Pemanfaatan dan Potensi Infrastruktur Mengatasnamakan BPS Adalah Hoaks. Institut Media dan Ruang Publik Indonesia. https://impresi.or.id/cek-fakta/cek-fakta-pesan-berantai-terkait-sensus-pemanfaatan-potensi-infrastruktur-yang-mengatasnam
Data dan temuan boleh dikutip dengan menyebut IMPRESI dan menautkan halaman ini.
