Klaim Erupsi Gunung di Indonesia Akibat HAARP: Hoaks yang Kembali Beredar
Unggahan video di Instagram menuding erupsi gunung api di Indonesia akibat rekayasa proyek teknologi HAARP. Pemeriksaan Komdigi menyimpulkan klaim itu hoaks: erupsi adalah pelepasan energi bumi berskala masif yang tidak mungkin dipicu atau dikendalikan teknologi buatan manusia.
Sebuah unggahan video di Instagram mengulas pernyataan seorang tokoh publik yang menyebut erupsi sejumlah gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi proyek HAARP.

Cek FaktaHoaks
Klaim yang beredar
Sebuah video di Instagram membahas pernyataan seorang tokoh publik yang menuding bahwa rangkaian erupsi gunung api di Indonesia bukan peristiwa alam, melainkan hasil rekayasa proyek teknologi bernama The High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP). Narasi itu menempatkan HAARP sebagai penyebab bencana vulkanik di Tanah Air.
Faktanya
Pemeriksaan yang dilakukan Komdigi dan dilaporkan melalui kompas.com menyimpulkan klaim tersebut tidak benar. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa anggapan erupsi beberapa gunung api di Indonesia dipicu rekayasa teknologi atau senjata konspirasi tidak masuk akal bila ditinjau dari ilmu kebumian.
Dalam kerangka geologi, tektonik, dan geofisika, letusan gunung api merupakan pelepasan energi endogenik bumi dengan skala sangat besar. Menurut Daryono, energi sebesar itu mustahil disimulasikan, dibangkitkan, maupun dikendalikan oleh teknologi buatan manusia mana pun. HAARP sendiri memang meneliti atmosfer, tetapi kemampuannya tidak mencakup rekayasa cuaca, apalagi memicu erupsi gunung api atau gempa. Program itu juga telah lama menjadi bahan teori konspirasi dan kerap dimunculkan kembali setiap kali terjadi bencana atau peristiwa alam besar.
Analisis
Yang membuat klaim ini menyesatkan adalah caranya merangkai dua hal yang berbeda ranah: aktivitas penelitian atmosfer dan proses geologis di dalam bumi. Dengan menyatukan keduanya dalam satu narasi, unggahan tersebut membangun kesan sebab-akibat yang tidak memiliki dasar keilmuan. Pola ini khas konten konspirasi: meminjam nama program riset yang terdengar canggih, lalu menempelkannya pada peristiwa bencana yang sedang menjadi perhatian publik.
Perlu dicatat, sumber tidak menyebut kapan video itu pertama kali dibuat maupun siapa pembuatnya, sehingga tidak dapat dipastikan apakah ini konten lama yang dibagikan ulang atau unggahan baru. Karena itu, penilaian terhadap motif pihak yang menyebarkan tidak dapat dilakukan di sini. Yang bisa ditegaskan, penyebaran klaim semacam ini berpotensi merugikan masyarakat luas: perhatian publik teralih dari informasi kebencanaan yang benar, dan muncul anggapan bahwa mitigasi tidak diperlukan karena bencana dianggap hasil rekayasa.
Pembaca dapat memeriksa sendiri dengan langkah sederhana. Pertama, telusuri apakah pernyataan tokoh yang dikutip benar-benar ada dan dalam konteks apa. Kedua, bandingkan dengan penjelasan lembaga berwenang di bidang kebencanaan dan geologi. Ketiga, waspadai unggahan yang menampilkan potongan video tanpa sumber jelas dan mengaitkan bencana dengan proyek teknologi asing.
Kesimpulan
Klaim bahwa erupsi gunung api di Indonesia disebabkan HAARP adalah hoaks. Letusan gunung api merupakan proses alam berskala masif yang tidak dapat dibangkitkan atau dikendalikan teknologi buatan manusia, dan HAARP tidak memiliki kemampuan memicu erupsi maupun gempa.
Sumber verifikasi
Komdigi · 2 Oktober 2026Erupsi Gunung di Indonesia Berkaitan dengan HAARPTautan pembanding
Kutip publikasi ini
IMPRESI. (2026). Klaim Erupsi Gunung di Indonesia Akibat HAARP: Hoaks yang Kembali Beredar. Institut Media dan Ruang Publik Indonesia. https://impresi.or.id/cek-fakta/cek-fakta-erupsi-gunung-di-indonesia-berkaitan-dengan-haarp
Data dan temuan boleh dikutip dengan menyebut IMPRESI dan menautkan halaman ini.
